RAPAT KOORDINASI BERSAMA TIM ASESMEN TERPADU

Posted by:

PENGUKUHAN TAT OLEH BNN KOTA SURABAYA

IMG-20170131-WA0016

Kepala departemen syaraf, jiwa dan rehabilitasi RSAL dr Ramelan, Kolonel laut dr I K Tirkanandaka Sp KJ saat pemaparan dampak narkoba di Ibis hotel
Seseorang yang telah menjadi pecandu narkoba, hingga kini tidak bisa disembuhkan. Demikian pernyataan dari Kolonel Laut dr IK Tirkanandaka Sp KJ, kepala departemen syaraf jiwa dan rehabilitas RSAL dr Ramelan.

“Pecandu narkoba tidak bisa sembuh tetapi dinyatakan pulih. Narkoba sendiri kan menyebabkan penyakit otak yang kronis,” kata dr IK Tirkanandaka dalam rapat koordinasi pengukuhan Tim Asesmen Terpadu (TAT) di hotel Ibis jalan Basuki Rahmad, Selasa (31/1/2017).

Tim asesmen terpadu sendiri terdiri dari 7 lembaga yaitu Badan Narkotika Nasional (BNN), kementerian hukum dan HAM RI, dinas kesehatan, kementerian sosial, kejaksaan, dan kepolisian.

Ditambahkan dr IK Tirkanandaka, tingkat pemulihan seorang pecandu narkoba tergantung tingkat ringan atau beratnya untuk mencoba agar mau lepas dari ketergantungan narkotika.

Pecandu narkoba, banyak mengalami perubahan di dalam otak yang menyebabkan fungsinya terganggu. Walaupun dinyatakan pulih, kadang keinginan kambuh masih besar.

Mekanisme ketergantungan memakai narkoba karena pemakaian zat yang menyebabkan buruknya otak secara terus menerus. Keinginan atau dorongan yang tidak tertahankan dan ini menjadi penyakit.

Disamping intervensi medis, pecandu narkoba harus bisa lakukan proses rehab. “Dan rehab jalan atau inap itu tergantung dari dokter. Berbasis community atau keluarga tergantung dari dokter yang menanganinya,” ujarnya.

Ia menyebut, pemakaian putauw atau heroin bisa menyebabkan gila. Banyak obat legal dokter disalah gunakan seperti double L atau koplo. Harganya yang murah mencapai Rp 200-500 per tablet membuat anak-anak mengkonsumsi besar.

Sedangkan efek ganja paling khas adalah seseorang mengalami flash back. Untuk tembakau gorilla atau tembakau ganesha bisa bikin kejang-kejang black out atau pingsan. Karena di dalam darah kaliumnya turun drastis.

“Dulu amphetamine dipakai obat pilek dan obat diet akhirnya disalah gunakan. Ini yang harus diwaspadai bersama,” tukasnya.

Kepala BNN Surabaya AKBP Suparti mengatakan tim asesmen terpadu bertujuan agar pengguna dan penyalahguna atau pecandu narkoba wajib menjalani rehabilitasi.

“Rehabilitasi medis dan sosial wajib dikenakan kepada pengguna dan penyalahguna narkoba sesuai pasal 54 UU no 35 tahun 2009,” kata AKBP Suparti.

#stopnarkoba #bnnksurabaya #ke2janyata